PUISI TELELET KARYA BPK. MARJUKI
Pada tanggal 15 oktober, menghadiri
webinar Puisi TELELET yang diselenggarakan oleh IGI dan komunitas dibawah
naungan IGI. Pemateri adalah bapak Marjuki penulis puisi TELELET.
Saya tidak bisa menulis puisi, pantun dan prosa. Amat terdengar aneh atau terlihat aneh bila saya menulisnya cenderung bercerita.
Setelah memperhatikan keterangan pak Marjuki, ternyata puisi itu ber RIMA juga, mirip yah dengan pantun, berakhiran aa ii uu ee oo. Nah aku malah makin ga ngerti deh.
Disesi baca puisi, yang paling saya suka adalah ibu Nurul. Bacanya indah penjiwaannya bagus dan menyatu dengan isi puisinya. Beliau menghipnotis peserta termasuk narsumnya. Kereeen banget ibu Nurul ini.
Ditemani setengah butir melon, aku menulis sudah beberap tulisan yang aku selesaikan, baik posting diwag, Instagram, facebook maupun blog.
APA
ITU PUISI TELELET
Pak Dr. Marjuki, MPd, asal Gresik, mengatakan bahwa Puisi TELELET beliau ciptakan untuk menjawab tantangan zaman. Beliau melanjutkan bahwa Puisi bergenre TELELET yang diciptakannya adalah
1. Mengikuti arus perubahan digitalisasi
transformasi
2. Dampak pandemic covid 19.
3. Harapan tentang Kebijakan Merdeka
Belajar
4. Kebijakan terkait kebiasaan baru (3M,
5M dst)
Konsep dasar Puisi TELELET adalah refleksi kehidupan sosial masyarakatyang reflektif dan analitik dengan pola 3 4 5 4 5 6 3 dan kepanjangan TELELET adalah Tga Empat Lima Empat Enam Lima Empat dan Tiga.
Beliau melanjutkan, bahwa puisi TELELET memiliki karakter sebagai berikut:
Bait ke 1 3
baris
Bait ke 2 4
baris
Bait ke 3 5
baris
Bait ke 4 4
baris
Bait ke 5 5
baris
Bait ke 6 6
baris
Bait ke 7 3
baris
Puisi TELELET memiliki 3 jenis RIMA, yaitu:
Pada RIMA pertama, satu sampai 2 huruf
yang menyertai RIMA harus sama dalam setiap bait. Tidak ada pengulangan kata
dalam RIMA. Kemudian menggunakan kata baku, toleransinya dapat menggunakan kata
baku dan kata serapan yang diketik
miring.
Keterangan berikut ;lihat gambar dibawah ini
ULASAN
Sebuah karya anak bangsa dalam inovasi literasi sastra patut diakui dan diapresiasi. Puisi TELELET ini masih mengacu pada sistim lama. Hanya dibentuk sedemian rupa, agar bisa menarik minat baca dari para pembaca.
Kesimpulan,
Menulis apapun tidak perlu mencari waktu
khusus, tulis saja mengalir saja, nanti akan ketenu titik dimana harus
diperindah.
Sangat betul sekali itu pusi yang berpola dengan sistem yang lama tapi dikolaborasikan dengan hasil pemikiran si pembuat agar penikmat pembaca semakin terbawa dengan keindahan puisi penulis
ReplyDeleteiya pak bener bngt. Kita memerlukan anak2 bangsa yg kreatif inovatif untuk mencerdaskan bangsa dan mempertahankan negara
Delete